Minggu, 21 Oktober 2012

Unsur Hara Boron



Boron dalam tanah terutama sebagai asam borat (H3BO3) dan kadarnya berkisar antara 7-80 ppm. Boron yang tersedia untuk tanaman hanya sekitar 5% dari kadar total boron dalam tanah.  Boron ditransportasikan dari larutan tanah ke akar tanaman melalui proses aliran masa dan difusi.  Selain itu, boron sering terdapat dalam bentuk senyawa organik.  Boron juga banyak terjerap dalam kisi mineral lempung melalui proses substitusi isomorfik dengan Al3+ dan Si4+.  Mineral dalam tanah yang mengandung boron antara lain turmalin (H2MgNaAl3(Bo)2Si4O2)O20 yang mengandung 3%-4% boron.   Mineral tersebut terbentuk dari batuan asam dan sedimen yang telah mengalami metomorfosis.  Mineral lain yang mengandung boron adalah kernit (Na2B4O7.4H2O), kolamit (Ca2B6O11.5H2O), uleksit (NaCaB5O9.8H2O) dan aksinat.  Boron diikat kuat oleh mineral tanah, terutama seskuioksida (Al2O3 + Fe2O3) (Athiqa, 2009).
Unsur boron hanya sedikit saja yang diperlukan tanaman bagi pertumbuhannya, tetapi kalau unsur ini tidak tersedia bagi tanaman gejalanya cukup serius, seperti antara lain: Pada bagian daun, terutama daun-daun yang masih muda terjadi klorosis secara setempat-setempat pada permukaan daun bagian bawah, yang selanjutnya menjalar ke bagian tepi-tepinya.  Jaringan-jaringan daun mati.  Daun-daun baru yang masih kecil-kecil tidak dapat berkembang, sehingga pertumbuhan selanjutnya kerdil.  Kuncup-kuncup yang mati berwarna hitam atau cokelat.  Pada bagian buah terjadi penggabusan, sedangkan pada tanaman yang menghasilkan umbi, umbi-umbinya kecil-kecil yang terkadang penuh dengan lubang-lubang kecil berwarna hitam, demikian pula dengan bagian akar-akarnya (Sutejo, 2002).
Menurut Wijaya (2008) defisiensi Boron (B) akan menurunkan mutu blomkhol dan umbi beet.  Sedangkan menurut Agromedia (2007) tunas pucuk mati dan berwarna hitam, lalu muncul tunas samping, tetapi tidak lama akan mati. Daun mengalami klorosis di mulai dari bagian bawah daun, lalu mengering.  Daun yang baru muncul kerdil dan akhirnya mati, daun tuanya berbentuk kecil, tebal dan rapuh. Pertumbuhan batang lambat dengan ruas cabang pendek.
Kekurangan boron pada beberapa komoditas menunjukkan gejala yang jelas, misalnya warna buah yang pucat, kulit buahnya retak dan rasanya seperti gabus.  Sangat disarankan aplikasi pupuk Boron melalui tanah, kecuali untuk tanaman yang telah mendapatkan program penyemprotan secara rutin.   Keracunan dapat menjadi masalah yang sangat serius jika jumlah boron terlalu berlebihan (Novizan, 2005).
Boron diserap oleh tanaman dalam bentuk borik accid dan di dalam tanaman juga berada dalam bentuk yang sama.  Mengenai mekanisme penyerapan apakah diserap secara aktif maupun pasif masih belum diketahui dengan pasti (Wijaya, 2008).
Boron yang diserap tanaman akan membentuk senyawa yang tidak dapat ditukar pada dinding sel dan plasma sel, sehingga bersifat tidak mobil.  Karena sifat yang tidak mobil maka boron tidak dapat diretranslokasikan dari organ tua menuju organ muda.
Boron sebagai unsur yang bertugas sebagai transportasi karbohidrat dalam tubuh tanaman, pengisapan unsur kalsium dan perkembangan bagian-bagian tanaman yang tumbuh aktif.  Boron dalam tanah ada tiga bentuk, yaitu (1) senyawa silikat, (2) terikat mineral lempung dan seskuioksida, dan (3) senyawa organik.  Dalam silikat, boron memasuki struktur inti melalui substitusi isomorfik terhadap ion Al3+ dan Si4+.  Mula-mula boron dalam bentuk ini relatif resisten. Tanah yang kadar bahan organiknya tinggi umumnya kadar boronnya juga tinggi (Rosmarkam dan Nasih, 2002).
Boron mendorong terbentuknya lignin, selulosa, hemiselulosa, dan pektin sehingga mendorong terbentuknya dinding sel yang stabil.  Sebaliknya bila tanaman mengalami defisiensi B maka tanaman akan cenderung mensintesis phenol, permeabilitas membran akan berkurang, dan aktivitas enzim yang terdapat pada membran sel akan menurun (Schiling, 2000).
Boron bersifat esensial bagi tumbuhan.  Boron di dalam tanah berasal dari pelapukan Glimer dan Turmalin menjadi asam borat (H3BO3) yang terlarut di larutan tanah.  Dalam bentuk ini juga diserap oleh tanaman dengan mengikuti aliran air menuju akar.  Transportasi boron di dalam pembuluh angkut bergerak mengikuti aliran masa air yang kecepatannya ditentukan oleh kecepatan transpirasi tanaman (Wijaya, 2008).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar